Esai "Kebaya"
Indonesia Berkebaya :
Bangkitkan Khazanah
Nusantara di Tengah Arus Globalisasi
Oleh :
Putu Adnanta Jaya
“Kebaya
bukan hanya sekedar pakaian namun juga mempunyai makna filosofi khusus.
Bentuknya yang sederhana merupakan wujud kesederhanaan masyarakat Indonesia
yang memancarkan nilai-nilai kepatuhan, kehalusan, dan perilaku wanita yang
serba lembut. Kebaya merupakan icon wanita Indonesia yang anggun dan berbudaya,
yang selalu mengayomi, serta memberikan ketenteraman hati,” (Menko
PMK,Puan Maharani)
Siapa
yang tak kenal dengan kebaya ? Sebuah
pakaian yang melekat dalam kehidupan pada setiap insan wanita nusantara. Kebaya
bisa dikatakan pakaian nasional kita layaknya batik. Alasannya adalah karena
kebaya dimiliki oleh berbagai daerah dari sabang hingga merauke dengan kearifan
lokalnya masing-masing.
Kebaya ini menurut
Ria Pentasari dalam buku Chic in Kebaya, kebaya tak bisa dipisahkan dari bangsa
Arab, Tiongkok, dan Portugis. Kata kebaya dianggap berasal dari ketiga bangsa
tersebut. Menurut sejarawan Denys Lombard, kata kebaya berasal dari bahasa Arab
“kaba”, yang artinya pakaian. Tak mengherankan jika istilah “abaya” juga masih
digunakan untuk pakaian tunik panjang khas Arab.
Ibu
Kartini (1892-1898) adalah salah satu tokoh Indonesia yang kehidupannya sangat
dekat dengan kebaya. Sebagai keturunan
bangsawan, sejak usia remaja, Kartini sudah menggunakan kebaya model adat Jawa
dan juga sarung batik. Saat itu, kebaya menjadi model busana satu-satunya yang
digunakan hampir seluruh wanita di Indonesia, karena kebaya tidak hanya ada di
budaya Jawa saja.
Kebaya mengalami
perkembangan dari waktu ke waktu, awal mula munculnya kebaya dari zaman dulu
hingga sekarang dimulai pada tahun 1300-1600 Masehi, diawali dengan busana
perempuan berupa baju semacam tunik yang mulai digunakan oleh perempuan
Tionghoa pada masa pemerintahan Dinasti Ming. Kemudian tahun 1500-1600 Masehi
perempuan imigran Tionghoa mulai muncul di wilayah Nusantara dan kemudian
berkembang menjadi kebaya encim atau kebaya peranakan.
Pada waktu itu, busana yang menjadi
cikal bakal kebaya masih berupa baju atasan berbentuk tunik, berlengan panjang,
menutup leher hingga ke lutut, dan berbentuk mirip baju kurung. Sebelumnya,
busana masyarakat di daerah Jawa, Bali dan Sumatera mengenakan sejenis kemben
tanpa atasan apapun, maka kebaya dianggap ideal sebagai baju atasan, karena
menutupi bagian dada perempuan.
Tahun 1500-an, kebaya mulai dikenal
sebagai busana khusus oleh anggota keluarga keturunan para Raja di Pulau Jawa,
dan pada tahun 1800 bersamaan dengan era Pemerintahan Hindia Belanda, bahan
pakaian yang lebih baik seperti beludru, berbagai jenis kain sutera dan tenunan
halus lainnya mulai muncul menggantikan bahan katun hasil tenunan yang
sederhana (kain mori), karena jalur perdagangan tekstil antar negara yang mulai
ramai.
Saat itu, penggunaan baju kebaya
diterapkan menurut kelas sosial. Keluarga keraton dan para bangsawan mengenakan
kebaya yang terbuat dari bahan sutera, beludru atau brokat. Adapun perempuan
Belanda atau keturunan bangsa asing mengenakan kebaya yang terbuat dari bahan
katun dengan bentuk dan potongan yang lebih pendek. Keturunan Eropa lainnya
yang berdiam di Indonesia, waktu itu juga mengenakan baju kebaya berbahan katun
halus dengan hiasan brokat di pinggirnya, sedangkan dari kalangan biasa pada
umumnya memakai kebaya dari bahan katun atau tenun biasa yang murah harganya.
Tahun 1900, kebaya tidak
saja digunakan oleh penduduk asli Jawa, tetapi juga dikenakan sebagai busana
sehari- hari oleh perempuan keturunan Tionghoa maupun Belanda. Ada dua jenis
kebaya yang banyak dikenakan, yaitu kebaya encim dan kebaya putu baru (kebaya
nyonya). Kebaya Encim adalah jenis kebaya yang dipakai oleh perempuan keturunan
Tionghoa, yang biasanya dihiasi dengan sulaman dan bordiran. Adapun kebaya putu
baru adalah kebaya bergaya tunik pendek berwarna-warni dengan motif yang cantik.
Panjang kebaya putu baru tadinya mencapai mata kaki pemakainya, tetapi
mengalami perkembangan sesuai zamannya.
Tahun 1945-1960-an, kebaya
sedemikian luas dalam berbagai kesempatan dalam kehidupan rakyat Indonesia
sehari-hari, baik di kawasan pedesaan ataupun perkotaan. Kebaya kembali meraih
posisinya sebagai baju ideal perempuan Indonesia, bahkan kebaya telah menjadi
identitas busana perempuan Indonesia bahkan disebut kostum Nasional. Kebaya
tidak saja menjadi baju sehari-hari, tetapi juga dikenakan pada berbagai acara
seremonial dan berbagai acara sosial pemerintahan yang dianggap resmi.
Kebaya telah melukis sebuah
historiografi sejarah yang indah dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia
di zaman dahulu. Kebaya yang dari zaman ke zaman di abad 13-19 berkembang
dengan pesat dengan berbagai variasi dan jenisnya telah meninggalkan
jejak-jejak sejarah yang indah. Namun, apakah kisah indah masa lalu masih bisa
kita lihat relevansinya dan implementasinya di masa kini ?
Abad 21
adalah era dimana globalisasi semakin masif penyebaran. Arus globalisasi
bergerak di seluruh aspek kehidupan dan berlangsung dengan sangat cepat.
Internet, artificial intelligent, robotisasi, automatisasi ,mekanisasi, dan revolusi industry 4.0 adalah keadaan faktual yang dihadapi umat manusia saat ini. Dunia
seakan tanpa sekat dan seakan-akan ada dalam satu genggaman smartphone. Akses
informasi demikian cepat ,arus perpindahan barang serta perpindahan orang hanya
berlangsung dengan hitungan menit.
Perkembangan
zaman ini bagai belati bermata dua. Ada sisi positif dan negatif di dalamnya. Hal
ini tergantung respon kita dalam menghadapinya. Kalau kita lihat dalam
perspektif budaya, kita akan melihat adanya variasi mode dan trend baik dari
sisi fashion, pola hidup, tingkah laku, adat yang berkembang di masyarakat. Hal
ini berlangsung secara masif di berbagai cabang-cabang kebudayaan.
Realita
persoalan bangsa yang sedang kita hadapi saat ini adalah lunturnya budaya
sebagai jati diri bangsa kita dimana orang Indonesia dalam kesehariannya hidup
dalam pengaruh westernisasi. Mulai dari makanan yang dikonsumsi,gaya hidup,adat
yang dibiasakan,pakaian,model rumah hingga aksesoris yang digunakan. Mereka
seakan meninggalkan khazanah sendiri dan merasa bangga dengan budaya barat.
Kalau
berbicara soal kebaya, maka kita masuk kepada hal-hal yang berkaitan dengan
sandang. Kita lihat saja dalam keseharian kita. Fakta di lapangan masalah yang
dihadapi berkaitan dengan busana kebaya adalah.
1. Sangat sedikit orang yang menggunakan kebaya
dalam kesehariannya.
Mereka lebih banyak menggunakan busana casual nan mini layaknya orang barat.
Pakaian yang serba terbuka,pendek dan tidak sesuai dengan budaya ketimuran kita. Tapi itulah yang terjadi
dan dipertontonkan pada kita. Tanpa kita sadari, kita pun juga secara tidak
sadar melakukan hal yang demikian.
2. Penilaian masyarakat yang menganggap bahwa
menggunakan pakaian nusantara layaknya kebaya adalah pakaian yang
merepotkan,tidak praktis dan sarat akan pakem-pakem
tertentu.
Masyarakat Indonesia masih merasa bahwa
pakaian kebaya adalah pakaian yang merepotkan karena masyarakat menilai kalau
kita pakai kebaya berarti harus disandingkan dengan stagen dan kain yang
memaksa masyarakat harus memiliki kedua benda itu. Kebaya juga tidak praktis
karena pemakaiannya tidak bisa langsung pakai seerti baju kaos. Hal lainnya
bahwa masyarakat menganggap bahwa kebaya itu punya pakem yang kaku dalam artian
bahwa kebaya itu bentuknya harus seperti itu dan hanya baik digunakan di
acara-acara tertentu saja. Padahal, ini adalah busana kita, identitas kita, dan
jati diri sebagai bangsa Indonesia.
3. Persoalan masyarakat yang menggunakan kebaya
ini menjadi semakin kompleks karena pola pikir masyarakat yang masih menganggap
kebaya itu kuno dan tidak relevan dengan perkembangan zaman. Hal ini kembali
lagi pada masyarakat yang terpengaruh westernisasi. Akibat dari westernisasi
ini semua pakaian nusantara dianggap kurang relevan dengan zaman dan masyarakat
lebih bangga menggunakan pakaian kebarat-baratan dan merasa bahwa lebih gaul menggunakan
pakaian itu. Sekali lagi ini adalah masalah pola pikir.
4. Kurang gencarnya sosialisasi mengenai mode
kebaya masa kini
Saat ini sudah banyak designer pakaian
tradisional terkemuka di Indonesia. Sebut saja misalnya Anne Avantie.Permasalahannya
adalah terletak pada sosialisasi hasil karya designer-designer tersebut yang
masih jarang dilakukan.Padahal, sudah banyak saat ini mode-mode kebaya modern
yang bisa bersaing baik dari sisi estetika maupun ergonomisnya.
5.
Kurang gencarnya pemasaran kebaya
Permasalahan berikutnya adalah soal
pemasaran. Kebaya kita pasokannya masih belum mencapai pelosok-pelosok negeri.
Maka dari itu tak jarang di berbagai wilayah Indonesia tak ada busana kebaya.
Permasalahan- permasalahan
itu mulai muncul pada generasi bangsa Indonesia sejak dulu. Namun, Karena
permasalahan lama tak kunjung selesai maka saat ini permasalahannya kian
kompleks. Permasalahan tersebut diawali pada
tahun 1970 – 1980an dimana pengaruh budaya pop yang kuat dari Eropa dan Amerika
membuat jalur dunia mode Indonesia berpaling ke sana. Berbagai tren fashion
bermunculan menunjukkan gaya perkotaan atau modern yang mengikuti arus mode di
Eropa dan Amerika. Kebaya yang oleh kaum muda dianggap sebagai busana
tradisional, dan mulai dianggap ketinggalan mode sehingga kebaya mulai
ditinggalkan.
Persoalan
pelik di bidang fashion pakaian bangsa ini tentu harus diatasi. Terlebih,
kebaya adalah pakaian yang mengiringi perjuangan bangsa dari sebelum
kemerdekaan hingga saat ini 74 tahun Indonesia merdeka. Perjalanan kebaya
mengiringi bangsa ini pasti menyiratkan sebuah pengalaman pelik sekaligus kaya
yang terpatri di setiap kebaya yang dipakai insan-insan Indonesia di masanya.
Mengingat jasanya yang cukup besar dan bermakna, kita sebagai bangsa harus
melestarikannya. Banyak resep yang dapat menyelesaikan persoalan ini. Resep itu
bisa datangnya dari pemerintah maupun kita sendiri sebagai anak bangsa.
1. Gerakan Indonesia Berkebaya
Solusi pertama dari permasalahan yang kita hadapi adalah
dengan melakukan sebuah gerakan yang dikenal dengan Gerakan Indonesia
Berkebaya. Gerakan ini dideklarasikan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya
Indonesia sebagai bagian dari upaya kembali ke budaya Indonesia dan mencintai
Indonesia dengan berkebaya. Berbagai rangkaian kegiatan telah dilakukan untuk
mencapai tujuan tersebut, salah satunya dengan gerakan “Selasa Berkebaya”.
Dalam kegiatan tersebut, setiap hari Selasa para perempuan menggunakan kebaya
dalam kesehariannya, baik ke kantor, ke pasar, dan berbagai aktivitas lainnya.
Ada empat tujuan utama deklarasi “Indonesia Berkebaya” yang diusung KPB Indonesia yaitu memperkenalkan kembali kebaya sebagai bagian dari sejarah dan budaya Indonesia kepada generasi muda Indonesia. Meningkatkan kreativitas dalam mendesain kebaya tanpa meninggalkan pakem budaya yang merupakan warisan leluhur, menjadi pemersatu bangsa, dan fungsi ekonomi yang bisa memajukan ekonomi kerakyatan.
2. Pengusulan Kebaya ke UNESCO agar ditetapkan sebagai
warisan budaya nusantara
Permasalahan dari memudarnya penggunaan
kebaya dapat diselesaikan dengan memperjuangkan kebaya agar ditetapkan oleh
UNESCO sebagai warisan budaya nusantara. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan
kecintaan kita terhadap kebaya dan menggaet kembali masyarakat agar menggunakan
kebaya dalam kehidupan bermasyarakat. Ternyata, hal ini telah diperjuangkan
oleh Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia berkaitan dengan Gerakan Indonesia
Berkebaya yang didengungkan olehnya.
Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud dalam
sebuah forum di Museum Nasional mengungkapkan bahwa Gerakan Indonesia Berkebaya
bisa menjadi langkah awal bagi Indonesia untuk memperoleh pengakuan UNESCO
bahwa kebaya adalah warisan budaya asli Indonesia. Bapak Hilmar selaku Dirjen
Kebudayaan menambahkan bahwa “pengusulan kebaya ke Unesco penting agar
kelestariannya terjaga dan tidak diklaim negara lain”.
3. Pengusulan Penetapan Hari Kebaya
Pelestarian kebaya juga didukung apabila
pemerintah menetapkan Hari Kebaya Nasional. Penetapan ini tentu berpengaruh
signifikan terhadap pola piker masyarakat yang cenderung malas menggunakan
kebaya karena berbagai anggapan negatif tentangnya.
Hal ini telah diusulkan oleh KPB Indonesia.
KPB Indonesia mengharapkan pemerintah agar
menetapkan salah satu tanggal sebagai Hari Kebaya Nasional. Komunitas ini
berharap agar ke depannya komunitas berkebaya bisa berdiskusi langsung dengan
menteri pendidikan dan kebudayaan demi tercapainya tujuan dijadikan hari kebaya
sebagai hari nasional seperti Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober
agar kebaya semakin dicintai dan digunakan masyarakat dengan bangga sebagai
identitas bangsa.
4. Memperkenalkan Kebaya melalui Berbagai Media
Sosialisasi menjadi begitu penting kalau
kita melihat masalah kebaya yang dihadapi saat ini. Memperkenalkannya melalui
berbagai media kiranya bisa menjadi senjata untuk mengatasi semua permasalahan
masyarakat, baik itu pola pikir maupun kebiasaan berpakaian masyarakat.
Saat ini kebaya memiliki variasi mode
yang bermacam-macam. Sentuhan designer seakan tak pernah kehilangan zaman pada
nuansa kain kebaya.Variasi terjadi mulai dari jenis kain yang digunakan,motif,
warna, bentuk hingga aksesoris yang melekat padanya. Maka dari itu, sosialisasi
mengenai jenis kebaya kekinian sangat penting untuk mengubah mindset masyarakat
tentang kunonya kebaya dan repotnya menggunakan kebaya.
Sosialisasi ini bisa dilakukan melalui
forum, diskusi, seminar, lokakarya, atau media digital dan cetak. Selain itu
pemilihan figur dari tokoh masyarakat terkenal sebagai Duta Kebaya juga cukup berperan
penting dalam sosialisasi ini. Sosialisasi melalui media khususnya media
digital juga sangat ampuh mengingat banyaknya media social dan stasiun televise
saat ini. Bisa saja dimanfaatkan dengan konten-konten mengenai pengenalan
kebaya kekinian hingga industry-industri kebaya tanah air yang berkembang saat
ini. Hal ini tidak hanya mendongkrak kebaya dari sisi sosialisasinya namun juga mendongkrak dari
sisi pemasarannya.
Usul lainnya seperti yang disampaikan
ketua Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia. Rahmi selaku ketua KPB mengimbau
para perempuan pecinta kebaya untuk melestarikan sekaligus mensosialisasikan
kebaya kepada generasi muda. Caranya, kata dia, dengan mendidik anak-anak putri
melalui gerakan kebaya masuk sekolah.
Pernyataan yang disampaikan tersebut
mendapat dukungan dari salah satu designer ternama,Musa Widyatmodjo. Musa
menyatakan bahwa sosialisasi penting melalui pendidikan
5. Mengadakan Berbagai Event Kebaya
Event menjadi penting dalam memantapkan sosialisasi
kebaya. Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, jika ingin agar
kebaya lestari maka pemerintah dan organisasi-organisasi lain harus lebih
banyak membuat event. Dengan demikian, masyarakat memiliki alasan untuk
membiasakan diri mengenakan busana nasional .
Senada dengan gagasan yang disampaikan
Dirjen Kebudayaan, desainer busana kenamaan, Musa Widyatmodjo mengatakan
bahwa Indonesia memang memerlukan event yang kental akan kebudayaan, salah
satunya adalah kebaya. Beliaupun menambahkan bahwa memiliki mimpi untuk
mengadakan pameran kebaya yang memamerkan mode kebaya dan aksesorisnya dari
zaman ke zaman serta mengadakan fashion busana kebaya.
6. Gerakan Pakaian Adat Nusantara
Solusi terakhir ditutup dengan sebuah Gerakan Pakaian
Adat Nusantara. Gerakan ini sudah diimplementasikan di beberapa provinsi di
Indonesia yang meliputi instansi pemerintah,instansi pendidikan,maupun
lembaga-lembaga lainnya.
Di Provinsi Bali misalnya. Pelaksanaan gerakan ini
dipayungi oleh Peraturan Gubernur No 79 Tahun 2018 tentang hari penggunaan
busana adat Bali dimana semua instansi baik pemerintah dan swasta dalam lingkup
Provinsi Bali dalam pengecualian beberapa instansi tertentu diwajibkan setiap
hari kamis menggunakan busana adat Bali.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kebaya
merupakan khazanah budaya nusantara yang telah menjadi kekayaan sandang
nasional Indonesia sejak zaman dahulu hingga kini dengan berbagai
perkembangannya baik dari segi model maupun bahan pembuatannya.
Kebaya yang berkembang mengiringi sejarah perjuangan
bangsa saat ini mengalami berbagai tantangan zaman di tengah arus globalisasi.
Maka dari itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus menimbulkan kecintaan
kita berkebaya dan membumikan kebaya di tanah nusantara.
.
DAFTAR
PUSTAKA
Kandelila, Aubrey.2019. Gerakan Indonesia Berkebaya
Tumbuhkan Cinta Kebaya. https://www.antaranews.com/berita/959373/gerakan-indonesia-berkebaya-tumbuhkan-cinta-kebaya
Diakses 3 Agustus 2019 Pukul 21.00 WITA
Tim CNN. 2019. Perempuan Berkebaya, Ajakan Berkebaya Tiap
Hari. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190717083147-277-412808/perempuan-berkebaya-ajakan-untuk-berkebaya-tiap-hari
Diakses 3 Agustus 2019 Pukul 21.00 WITA
Rochimawati, Shalli Syartiqa.2019.Indonesia Berkebaya
Kenalkan Kebaya ke Generasi Muda. https://www.msn.com/id-id/gayahidup/fesyen/indonesia-berkebaya-kenalkan-kebaya-ke-generasi-muda/ar-AAEqrDn
Diakses 3 Agustus 2019 Pukul 14.00 WITA
Tim JPNN. 2019. Gerakan Indonesia Berkebaya Setiap Selasa ke
Kantor dan Pasar. https://www.jpnn.com/news/gerakan-indonesia-berkebaya-setiap-selasa-ke-kantor-dan-pasar
Diakses 3 Agustus 2019 Pukul 14.00 WITA
Utama, Ahadian. 2019. Komunitas Perempuan Berkebaya. https://www.voaindonesia.com/a/komunitas-perempuan-berkebaya-indonesia/5004147.html
Diakses 3 Agustus 2019 Pukul 14.00 WITA
Sista. 2019. KPB Indonesia Deklarasikan Gerakan Indonesia
Berkebaya. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/kpb-indonesia-deklarasikan-gerakan-indonesia-berkebaya/
Diakses 3 Agustus 2019 Pukul 14.07 WITA
Ardanareswari, Indira. 2019. Komunitas Perempuan Berkebaya
Ajak Masyarakat Lestarikan Kebaya. https://tirto.id/komunitas-perempuan-berkebaya-ajak-masyarakat-lestarikan-kebaya-eep4
Diakses 3Agustus 2019 Pukul 14.10 WITA
Tim Kumparan. 2019. Kebaya dalam Sejarah Perjalanan
Masyarakat Indonesia. https://kumparan.com/potongan-nostalgia/kebaya-dalam-sejarah-perjalanan-masyarakat-indonesia
Diakses 3 Agustus 2019 Pukul 15.00 WITA
Komentar
Posting Komentar