Esai "Kesehatan Mental"
Kesehatan
Mental : Substansi Penting di Masa Pandemi Covid-19 bagi Generasi Z
COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh Novel Coronavirus (2019-nCoV), jenis baru coronavirus yang pada manusia menyebabkan penyakit mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernapasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Pada 11 Februari 2020, World Health Organization (WHO) mengumumkan nama penyakit yang disebabkan 2019-nCov, yaitu Coronavirus Disease (COVID-19).
COVID-19
adalah virus yang telah menyebar ke seluruh dunia dan di Indonesia sendiri per
hari Minggu, 27 September 2020 tercatat 271.339 kasus terkonfirmasi. Virus ini menyebar dengan sangat cepat
dan mengakibatkan berbagai permasalahan
baik itu kesehatan maupun social ekonomi masyarakat. Permasalahan kesehatan
adalah hal yang paling urgen dalam hal ini. Pemerintah pun baru-baru ini
menyampaikan lewat konferensi pers bahwa ekonomi akan tumbuh jika kesehatan
membaik. Hal ini menandakan bahwa kesehatan adalah prioritas di situasi krisis
seperti sekarang ini. Tapi sadarkah anda bahwa kesehatan disini tak hanya
berdampak pada kesehatan fisik ? Ternyata setelah virus ini berlangsung selama
kurang lebih 6 bulan yang kemudian mengakibatkan banyak aktivitas berhenti juga
berakibat pada kesehatan mental seseorang. Sebelum lebih jauh , menurut WHO, kesehatan
mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang
di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang
wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di
komunitasnya.
Kesehatan mental kini menjadi hal yang penting bagi generasi Z. Mengapa demikian ? hal ini karena sebagian besar mereka berada di rumah dalam menjalankan aktivitasnya. Kegemaran generasi Z untuk bersenda gurau di lingkungan pendidikannya menjadi mendadak terhenti akibat pandemi. Hal ini kemudian menimbulkan gangguan kesehatan mental. Menurut WHO, gangguan mental kini menjadi hal yang serius . Direktur Departemen Kesehatan Mental WHO, Devora Kestel mengungkapkan isolasi, ketakutan, ketidakpastian,kekacauan ekonomi menjadi penyebabnya. Hal ini kemudian dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Psychiatry, menunjukkan bahwa responde mengakui mengalami kegelisahan dan ketakutan akan mengalami gangguan mental sejak pandemi covid-19 terjadi.
Dalam kaitannya dengan generasi Z, Melansir dari India Times, survei yang dilakukan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyatakan bahwa 50 persen anak muda mengalami gejala kecemasan dan depresi. Survei ini telah diterbitkan dalam laporan berjudul 'Youth and Covid-19: impact on job, education, rights and mental well-being'. Survei ILO dilakukan pada 12.000 peserta yang berasal dari 112 negara. Sebagian besar dari mereka adalah anak muda terpelajar yang memiliki akses internet dengan umur 18 hingga 29 tahun.
Melihat begitu peliknya persoalan yang terjadi yang berkaitan dengan gangguan mental, tentu harus ada solusi yang ditawarkan. Dalam pandangan penulis menyatakan bahwa solusi yang paling tepat ada dua, yaitu dengan e-counseling dan dengan pendampingan anak yang tepat melalui orang tua. Sejauh ini pemerintah telah meluncurkan berbagai layanan konseling baik itu pemerintah pusat dan beberapa pemerintah daerah. Kantor Staf Presiden (KSP) bersama tujuh lembaga lainnya meluncurkan layanan psikologi nasional untuk kesehatan jiwa yang dinamai Sejiwa. Pemerintah daerah juga turut meluncurkan layanan konseling, seperti contohnya Jawa barat yang meluncurkan aplikasi Pikobar. itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan jiwa masyarakat ditengah pandemi Covid-19. Selain pemerintah, sekolah melalui guru-guru BK juga meluncurkan layanan konseling berbasis cybercounseling. Dalam kaitannya dengan pendampingan anak yang tepat berikut ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua selama pandemi.
Komentar
Posting Komentar