Motivation Letter
Yth.
Panitia Raja Brawijaya 2020
Saya
Putu Adnanta Jaya, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Saya adalah
anak pertama dari dua bersaudara. Saya lahir sebagai orang keturunan Bali. Saya
sangat gemar membaca buku dan menceritakan apa yang saya baca pada orang-orang
terdekat saya. Sejak kecil saya memang terbiasa dilatih oleh orang tua saya
untuk bercerita apapun yang terjadi selama hari-hari yang saya lalui baik itu
di rumah, sekolah, bahkan masyarakat. Hal ini menjadi kebiasaan saya saat saya
makan bersama. Saya merasa bahwa inilah
passion yang saya miliki. Berbicara adalah hal yang menurut saya menyenangkan
terlebih hal-hal ataupun isu-isu yang hangat dibahas di negeri ini. Kegemaran
saya itu saya salurkan sedari sekolah menegah pertama melalui berbagai
organisasi yang saya ikuti. Hal ini saya lakukan karena saya merasa bahwa
kegemaran saya membaca harus saya sampaikan dan itu kemudian yang membuat ilmu
yang didapat mandarah daging dalam kalbu dan tak terhapuskan.
Melalui
kegemaran saya itu yang kemudian saya salurkan melalui berbagai organisasi baik
OSIS, Forum Komunikasi OSIS, dan lain – lain menjadikan saya menyadari diri
saya lebih jauh. Interaksi yang saya lakukan dengan berbagai kolega dari
berbagai latar belakang membuat banyak terjadi pertukaran pikiran hingga
introspeksi diri. Tentu saja dengan sendirinya saya kemudian memahami penilaian
terhadap diri saya baik dari diri sendiri maupun orang lain. Mereka kerap kali
ketika berbincang dengan saya saat menekuni apapun kegiatan yang telah
diprogramkan menyatakan apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan saya. Kalau
boleh diceritakan sedikit bahwa sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa
saya adalah tipe orang yang pantas duduk di posisi penasihat. Hal ini terjadi
mungkin karena ketika saya berbicara, saya tak hanya menanyakan dan menanggapi
jawaban. Hal yang saya lakukan lebih dari itu mulai dari menceritakan apa yang
mereka lakukan saat bangun dan beranjak dari tempat tidur, bercengkrama dengan
keluarga hingga mereka sampai bersama saya mengerjakan aneka rupa kegiatan.
Saya juga tak jarang di saat kelelahan menanyakan apa yang menjadi masalah
pribadinya pun juga dia menanyakan hal yang sama kepada saya. Hal ini terus
menerus berlanjut dengan berbagai orang-orang hingga pada akhirnya sampailah
saya pada kesadaran akan kekurangan dan kelebihan saya. Mungkin kelebihan saya sudah saya sampaikan,
bagaikan belati bermata dua kekurangan saya juga bersumber dari kelebihan saya
itu. Tak jarang ketika saya membaca banyak hal dan mengungkapkan apa yang say
abaca hingga bertukar emosi dan berdialog dengan banyak orang tidak pada momen
yang tepat. Hal ini kemudian yang
terkadang menimbulkan ketersinggungan dari lawan bicara saya. Namun, seiring
berjalannya waktu saya pun mulai menyadari bahwa kekurangan dan kelebihan yang
saya miliki harus ditunjukkan pada momen dan konteks yang tepat karena saya
percaya bahwa tak semua orang walau dalam organisasi yang sarat komunikasi
bersedia untuk terus meladeni kita.
Terlepas
dari hal itu, saya kemudian menyadari bahwa itulah cara saya mensyukuri diri
saya sebagai anugerah-Nya. Mensyukuri bahwa segala kelebihan dan kekurangan itu
harus saya tunjukkan pada momen yang tepat dan kebermanfaatan orang banyak. Dari
mensyukuri segala kelebihan dan kekurangan saya itulah kemudian saya sadar
bahwa itulah cara saya memahami, menerima , dan menyayangi diri sendiri.
Melalui segudang cerita, asa , dan pencarian yang saya lakukan hingga akhirnya
saya sampai pada titik dimana saya merasakan bahwa diri saya berharga dan harus
disayangi.
Komentar
Posting Komentar